Cara Terbaik Beternak Burung Walet

Cara Beternak Burung WaletWalet adalah salah satu jenis burung sangat istimewa. Liur burung walet atau sering disebut sarang burung walet berharga mahal. Banyak gedung walet dibangun untuk tempat bersarang burung walet. Banyak orang  tertarik budidaya walet. Mereka berharap dapat hasil melimpah dengan panen sarang walet. Sarang walet adalah komoditas ekspor.

CARA BUDIDAYA WALET

Dalam budidaya walet dibutuhkan beberapa persyaratan agar burung mau datang dan membuat sarang. Berikut ini beberapa persyaratan yang diperlukan :
  • Lokasi ideal berada di dataran rendah hingga dataran tinggi (ketinggian maksimal 1.000 meter dari permukaan laut).
  • Lokasi budidaya harus tenang, tidak terganggu oleh keramaian atau aktivitas manusia, dan polusi suara (suara kendaraan, mesin pabrik besar, dan sejenisnya).
  • Usahakan lokasi budidaya aman dari gangguan binatang predator.
  • Lokasi yang tepat untuk budidaya walet antara lain persawahan, padang rumput, hutan terbuka, kawasan pesisir, tepi danau, pinggir sungai, dan rawa-rawa.

Persiapan sarana dan prasarana

Gedung / bangunan yang akan dijadikan sarang walet harus memiliki suhu dan kelembaban yang mirip dengan goa-goa alami, dengan suhu 24 – 26 derajat Celcius dan kelembaban 80 – 95%. Pengaturan suhu dan kelembaban bisa dilakukan dengan cara :
  • Melapisi plafon dengan sekam setebal 20 cm.
  • Membuat saluran-saluran air atau kolam di dalam gedung.
  • Menggunakan ventilasi udara dari pipa berbentuk “L”, yang diberi lubang-lubang berdiameter 4 cm, dan jarak antar-lubang masing-masing 5 meter.
  • Menutup rapat-rapat pintu, jendela, dan lubang-lubang yangtidak terpakai.
  • Pada lubang keluar-masuk diberi penghalang sinar berbentuk corong dari goni (bisa juga menggunakan kain hitam) agar keadaan di dalam gedung lebih gelap.

Konstruksi bangunan yang digunakan

Pada umumnya rumah walet berbentuk seperti sebuah bangunan gedung yang besar dan tinggi. Luasnya bervariasi, tergantung kebutuhan dan keadaan. Bangungan tidak boleh berdekatan dengan pohon yang lebih tinggi atau menutup bangunan tersebut. Tembok bangunan dibuat dari dinding yang diplester, yang dibuat dari campuran pasir, kapur dan semen dengan perbandingan 3 : 2 : 1. Bahan-bahan ini sangat membantu dalam mengendalikan suhu dan kelembaban udara ideal.

Persyaratan lingkungan lokasi kandang adalah:
  • Dataran rendah dgn ketinggian maksimum 1000 m dpl.
  • Daerah yg jauh dr jangkauan pengaruh kemajuan teknologi & perkembangan masyarakat.
  • Daerah yg jauh dr gangguan burung-burung buas pemakan daging.
  • Persawahan, padang rumput, hutan-hutan terbuka, pantai, danau, sungai, rawa-rawa merupakan daerah yg paling tepat.
Bagian terpenting dari konstruksi bangunan ini adalah keberadaan roving room atau tempat untuk berputar-putar dan resting room yaitu tempat untuk beristirahat.Lubang untuk pintu masuk dan keluar berukuran 20 x 35 cm, yang dibuat di bagian atas dinding. Jumlah pintu dibuat sesuai dengan kebutuhan dan / atau kondisi bangunan. Perlu diingat, letak pintu jangan menghadap ke timur karena walet biasanya jarang mau masuk. Lubang dinding dicat dengan warna hitam.

Persiapan bibit dan indukan

Jika bangunan sudah disiapkan, dan memenuhi persyararatan lokasi ideal sebagaimana dijelaskan di atas, ada dua materi yang harus segera didatangkan, yaitu burung seriti dan telur walet. Burung seriti berfungsi untuk menetaskan telur-telur walet. Anda bisa memperoleh telur walet dari para pembudidaya walet ketika sedang memanen sarang burung.
Panen sarang burung biasanya dilakukan setelah ribuan walet membangun sarangnya dan masing-masing induk betina bertelur sebanyak 2 butir. Karena yang dipanen hanya sarang walet, pembudidaya biasanya akan membuang telur-telurnya. Istilah ini biasa disebut sebagai “panen buang telur”.
Nah, telur-telur inilah yang bisa Anda beli untuk dierami oleh burung seriti. Dengan demikian, Anda harus mengundang burung seriti agar mau masuk ke bangunan. Cara mengundangnya melalui pemutaran audio uara burung walet atau seriti, baik melalui pemutar mp3 maupun perangkat audio CD. Pemutaran audio sebaiknya dilakukan pada pukul 16.00 hingga 18.00. Sebab, saat itulah kawanan burung seriti akan beristirahat usai mencari makanan.
Begitu diputarkan rekaman audio tersebut, tidak lama kemudian akan datang rombongan burung seriti, atau bisa juga kawanan walet, yang terlihat berputar-putar di sekitar lokasi suara tersebut.

Pemilihan telur walet

Telur walet yang dipanen bisa dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan warnanya, yaitu:
  • Merah muda: ini merupakan telur yang baru dikeluarkan indukan dan masih berusia 0 – 5 hari.
  • Putih kemerahan: telur sudah berusia 6 – 10 hari.
  • Putih pejat kehitaman: telur sudah berusia 10-15 hari, dan sebentar lagi akan menetas.

Perawatan Ternak

Anak burung walet yang baru menetas tidak berbulu dan sangat lemah. Anak walet yang belum mampu makan sendir perlu disuapi dengan telur semut (kroto segar) tiga kali sehari. Selama 2–3 hari anak walet ini masih memerlukan pemanasan yang stabil dan intensif sehingga tidak perlu dikeluarkan dari mesin tetas. Setelah itu, temperatur boleh diturunkan 1–2 derajat/hari dengan cara membuka lubang udara mesin.
Pada hari ke-10, ketika bulu-bulu mulai tumbuh, anakan walet dipindahkan ke dalam boks khusus yang dilengkapi alat pemanas atau lampu pijar 5-10 Watt yang diletakkan di tengah boks. Setelah umur 4o hari, anakan walet sudah bisa terbang, Inilah saat terbaik untuk memindahkannya ke bangunan / rumah walet.
Setelah berumur 43 hari, anak-anak walet yang sudah siap terbang dibawa ke gedung pada malam hari, kemudian dletakan dalam rak untuk pelepasan. Tinggi rak minimal 2 m dari lantai. Dengan ketinggian ini, anak waket akan dapat terbang pada keesokan harinya dan mengikuti cara terbang walet dewasa.

Sumber Pakan

Burung walet merupakan burung liar yang mencari makan sendiri. Makanannya adalah serangga-serangga kecil yang ada di daerah pesawahan, tanah terbuka, hutan dan pantai/perairan. Untuk mendapatkan sarang walet yang memuaskan, pengelola rumah walet harus menyediakan makanan tambahan terutama untuk musim kemarau. Beberapa cara untuk mengasilkan serangga adalah:
  • budidaya serangga yaitu kutu gaplek dan nyamuk. c. membuat kolam dipekarangan rumah walet.
  • menanam tanaman dengan tumpang sari.
  • menumpuk buah-buah busuk di pekarangan rumah.
  • Membuat kolam di pekarangan dekat bangunan / rumah walet.

Hama dan Penyakit Ternak Burung Walet


  • Tikus - Hama ini memakan telur, anak burung walet bahkan sarangnya. Tikus mendatangkan suara gaduh dan kotoran serta air kencingnya dapat menyebabkan suhu yang tidak nyaman. Cara pencegahan tikus dengan menutup semua lubang, tidak menimbun barang bekas dan kayu-kayu yang akan digunakan untuk sarang tikus.
  • Semut - Semut api dan semut gatal memakan anak walet dan mengganggu burung walet yang sedang bertelur. Cara pemberantasan dengan memberi umpan agar semut-semut yang ada di luar sarang mengerumuninya. Setelah itu semut disiram dengan air panas.
  • Kecoa - Binatang ini memakan sarang burung sehingga tubuhnya cacat, kecil dan tidak sempurna. Cara pemberantasan dengan menyemprot insektisida, menjaga kebersihan dan membuang barang yang tidak diperlukan dibuang agar tidak menjadi tempat persembunyian.
  • Cicak dan Tokekb- Binatang ini memakan telur dan sarang walet. Tokek dapat memakan anak burung walet. Kotorannya dapat mencemari raungan dan suhu yang ditimbulkan mengganggu ketenangan burung walet. Cara pemberantasan dengan diusir, ditangkap sedangkan penanggulangan dengan membuat saluran air di sekitar pagar untuk penghalang, tembok bagian luar dibuat licin dan dicat dan lubang-lubang yang tidak digunakan ditutup.

Masa panen


Sarang burung walet bisa dipanen jika kondisinya sudah memungkinkan untuk dipetik. Untuk melakukan pemetikan diperlukan cara dan ketentuan khusus agar hasilnya bisa memenuhi mutu dan kualitas sarang walet yang baik. Kesalahan dalam pemetikan  akan berakibat fatal, baik terkait dengan kualitas sarang burung, maupun kelangsungan bangunan / rumah walet itu sendiri di mana kawanan walet tak mau lagi kembali ke rumahnya.
Untuk itulah, diperlukan pengetahuan mengenai bagaimana memanen sarang dengan tepat, dan tidak menimbulkan kerugian di lain waktu, dengan mengikuti beberapa pola panen berikut ini:
  • Panen rampasan
    Panen rampasan dilakukan setelah sarang sudah siap dibuat dan akan digunakan untuk bertelur. Sebelum burung bertelur, sarang kita ambil. Keuntungannya adalah waktu panen lebih cepat, kualitas sarang yang bagus, dan total produksi sarang bisa lebih banyak. Kelemahannya, cara ini tidak efektif dalam mengembangbiakan burung walet, karena burung walet yang akan bertelur akan mencoba membangun kembali sarangnya dengan kondisi yang lemah, dan lama-lama membuat produksi sarang menurun (lebh kecil dan tipis), karena tidak mampu memproduksi air liur dengan baik.
  • Panen buang telur
    Panen buang telur dilakukan setelah burung membuat sarang dan meletakan telurnya. Telur ini diambil, lalu dibuang atau diberikan kepada peternak baru seperti dijelaskan sebelumnya. Keuntungan metode ini, dalam setahun bisa panen hingga 4 kali, dengan kualitas sarang yang baik. Kelemahannya, burung walet tidak diberi kesempatan berkembang biak.
  • Panen penetasan
    Panen penetasan adalah sarang dipanen atau dipetik setelah telur menetas dan anak-anaknya sudah bisa terbang sendiri. Kelemahannya, kualitas sarang menjadi rendah karena sudah mulai rusak dan dicemari kotoran burung. Keuntungannya, populasi burung bisa meningkat.(
    peluangusaha-okeomkicau)

Meraup Untung Dari Rumah Makan Bebek Sari Rempah

Rumah Makan Bebek Sari RempahRasanya kini tak perlu enggan lagi menyantap menu masakan bebek. Banyak anggapan bahwa daging bebek identik dengan rasa amis serta memiliki kadar kolesterol yang tinggi. Namun, kini ada masakan bebek dengan sensasi rasa yang menggoda selera makan di Rumah Makan Bebek Sari Rempah Jalan DI Panjaitan 47B Semarang.

Ya, begitu mencicipi daging bebek Sari Rempah bisa dipastikan rasa amis akan hilang. Sebab, untuk mengurangi agar daging bebek tidak amis dan menjadi rendah kolesterol, rumah makan ini memformulasikan bumbu dari beberapa jenis rempah-rempah. Antara lain komposisinya ada kayu manis, pala, kapulaga, cengkeh, jinten, jahe, kencur dan masih banyak lagi.
Pemilik RM Sari Rempah, Prasetyo Sugiarto menuturkan, ada plus minum masakan dari daging bebek ini. Daging bebek mengandung protein yang sangat tinggi, dengan kadar protein 28 persen yang sangat bagus bagi pertumbuhan. Tapi disisi lain, daging bebek memiliki kadar kolesterol yang sangat tinggi serta bau yang amis yang dihasilkan dari lemaknya.
"Dengan aneka jenis rempah yang dimasukkan dalam rebusan daging bebek, hasilnya akan membuat lebih gurih, tidak amis dan rendah kolesterol," paparnya, belum lama ini.
Bau amis dari daging bebek, kata dia, karena kandungan minyak dalam lemaknya. Dengan bumbu rempah itu, membuat lemak bisa terangkat sehingga bau amisnya akan hilang.
RM Bebek Sari Rempah ini menyediakan menu masakan aneka bebek. Seperti, bebek goreng, bebek penyet, ayam goreng. Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau mulai Rp 16.000-17.000 per porsi.
Untuk tahap pertama, dalam sehari Prasetyo optimistis setiap harinya akan menghabiskan 100-150 ekor bebek atau 400-600 porsi bebek. Daging bebek didatangkan dari supplier yang peternakannya terdapat di daerah Trengguli.
"Saat masyarakat sudah jenuh dengan bebek goreng, saya ingin menghadirkan sesuatu yang baru yakni bebek penyet sebagai menu utama. Saya percaya akan banyak orang yang suka, karena bebek penyet kami beda dari yang lain," katanya.(sumber suaramerdeka)

Cara Budidaya Ikan Patin

Ikan patin merupakan jenis ikan air tawar yang dapat dikonsumsi oleh manusia. Produknya termasuk unggulan sehingga banyak peternak yang mencoba usaha budidaya ikan patin ini. Tekstur daging ikan patin ini memiliki banyak lemak dan agak basah namun tidak memiliki banyak duri. Harga ikan patin di pasaran cenderung stabil sehingga usaha budidaya ikan patin ini cukup menjanjikan dan berpotensi menghasilkan pendapatan besar.


Proses Pembenihan Pada Budidaya Ikan Patin


Kegiatan pembenihan ikan patin merupakan upaya untuk menghasilkan benih pada ukuran tertentu sehingga yang dihasilkan adalah benih yang dihasilkan setelah masa pendederan. Proses penting yang harus dilalui pada budidaya ikan patin. Setiap tahapan pada budidaya ikan patin bisa dijadikan bisnis tersendiri.
Pada tahap pembenihan misalnya, peternak bisa mencoba budidaya ikan patin hanya dalam tahap ini lalu langsung menjual benihnya pada mereka yang membutuhkan benih-benih berkualitas. Tentunya harga yang dipatok berbeda dengan ikan patin yang sudah dewasa dan siap dikonsumsi.
Untuk memulai budidaya ikan patin, Anda bisa mendapatkan benih ikan dari hasil tangkapaan di perairan umum maupun membeli dari Balai Pemeliharaan Ikan Air Tawar di Jawa Barat. Benih-benih ini biasanya dikumpulkan dalam satu wadah dan dirawat selama kurang lebih dua minggu. Proses inilah yang membutuhkan kehati-hatian.

Langkah mudah budidaya ikan patin
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam budidaya ikan patin adalah kualitas air, apabila air dalam penampungan sudah mulai kotor, gantilah dengan air bersih dan hindarkan dari sengatan matahari. Benih ikan patin ini akan siap ditebar ketika sudah dipindahkan dan dipelihara terlebih dahulu di dalam jaring. Hal ini dimaksudkan agar benih ikan patin mampu berdadaptasi dengan lingkungan barunya. Budidaya ikan patin ini memang perlu perhatian yang besar.

Ciri-ciri induk patin yang sehat dan siap dipijahkan adalah sebagai berikut :

  • Proses Pembenihan Pada Budidaya Ikan Patin – Induk Betina
  • Berumur tiga tahun
  • Ukuran anatara 1.5 – 2 kilogram
  • Perut membesar ke arah anus
  • Perut terasa empuk dan halus saat diraba
  • Kloaka membengkak dan berwarna merah tua
  • Kulit pada bagian perut lembek dan tipis
  • Ketika kloaka ditekan maka akan keluar beberapa butir telur dengan bentuk bundar yang besarnya seragam.
  • Proses Pembenihan Pada Budidaya Ikan Patin – Induk Jantan
  • Berumur dua tahun
  • Ukuran 1.5 – 2 kilogram
  • Kulit perut lembek dan tipis
  • Bila diurut akan keluar cairan sperma berwarna putih
  • Kelamin membengkak dan berwarna merah tua.

Proses Pembesaran Budidaya Ikan Patin


Pembesaran ikan patin dapat dilakukan di kolam, di jala apung baik dengan sistem pen maupun dalam karamba. Berikut penjelasannya:
Pembesaran ikan patin di kolam dapat dilakukan melalui sistem monokultur maupun polikultur.
Pembesaran ikan patin di jala apung sebaiknya memerhatikan lokasi pemeliharaan, bagaimana cara menggunakan jala apung, bagaimana kondisi perairan dan kualitas airnya serta proses pembesarannya.
Pada pembesaran ikan patin, sistem yang perlu diperhatikan pemilihan lokasi, kualitas air, penebaran benih dan pemberian pakan serta pengontrolan.
Pada pembesaran ikan patin di karamba yang perlu diperhatikan adalah masalah pemilihan lokasi, penebaran benih, pemberiaan pakan tambahan, pengontrolan dan pemanenan.

Proses Panen Budidaya Ikan Patin

Pastikan ikan patin tidak terkoyak siripnya ketika Anda mengangkatnya dari kolam pembesaran. Ikan patin yang terkoyak siripnya akan mengalami penurunan harga sehingga tak laku di pasaran. Budidaya ikan patin juga membutuhkan kehati-hatian yang lebih detail.
Ketika budidaya ikan patin Anda sudah mulai membuahkan hasil, jangan gunakan jala yang besar dan kasar untuk menangkap ikan patin karena akan menyakiti dan merusak tubuh ikan patin. Sebaiknya gunakan serok dengan jala yang halus. Pilihlah ikan patin yang benar-benar siap panen sehingga hasil yang Anda dapatkan pun maksimal.

Pengemasan dalam Budidaya Ikan Patin


Pengemasan benih ikan patin harus dapat menjamin keselamatan benih selama pengangkutan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengemasan benih ikan patin ketika Anda mulai berbisnis budidaya ikan patin yaitu:
Sediakan kantong plastik sesuai kebutuhan. Setiap kantong dibuat rangkap untuk menghindari kebocoran.
Benih ikan yang telah dipuasakan selama 18 jam ditangkap dengan serokan halus kemudian dimasukan kedalam kantong plastik tadi.
Satu persatu kantong diisi dengan oksigen murni (perbandingan air ksigen = 1:2). Setelah itu segera diikat dengan karet gelang rangkap.
Kantong-kantong plastik berisi benih dimasukkan kedalam kardus.
Lama pengangkutan. Benih ikan patin dapat diangkut selama 10 jam dengan tingkat kelangsungan hidup mencapai 98,67%.
Tips Budidaya Ikan Patin Secara umum, kegiatan budidaya ikan patin terdiri dari dua kegiatan yakni pembenihan dan pembesaran. Kegiatan pembenihan ikan patin masih tergolong sesuatu yang jarang diketahui sebab selama ini masyarakat lebih memilih mengambil benih ikan patin di sungai, waduk atau situ. Proses pembenihan sendiri adalah upaya menghasilkan bibit ikan dengan ukuran yang diinginkan. Hasil akhirnya berupa benih ikan yang telah melalui proses pendederan. Jika ditarik dalam urutan garis besar maka kegiatan pembenihan meliputi: 
  1. Memilih indukan yang siap diijah
  2. Menyiapkan hormon atau kelenjar hipofise yang bersumber dari ikan donor, yakni jenis ikan mars.
  3. Induce breeding atau proses kawin suntik
  4. Striping atau kegiatan pengurutan.
  5. Proses penetasan larva.
  6. Proses pendederan.
  7. Proses pemanenan
(sumber caraberternak)

PENGENALAN TERNAK DOMBA KAMBING UNTUK PETERNAK PEMULA

Domba Kambing merupakan salah satu ternak pemakan rumput yang tergolong ruminansia kecil yang banyak dikenal dikalangan bangsa-bangsa dunia. Kambing lebih dari 400 juta ekor, dimana 90% diantaranya di Asia dan Afrika. Jumlah populasi Kambing di Asia 225 juta ekor atau 56% dari populasi kambing seluruh dunia. Di Indonesia populasi Kambing sebanyak 13.182.064 ekor dan Domba 8.306.92 ekor (Data Ditjen Peternakan Tahun 2005).

Disamping dimanfaatkan kulit, bulu dan pupuk, maka pada dasarnya ternak kambing dibedakan ada dua tipe, yaitu Kambing penghasil daging (potong) dan penghasil susu.

Sedangkan untuk domba secara umum ternak domba dikelompokkan menjadi tipe potong, wol dan dual purpose (sebagai pedaging dan penghasil wol). Ciri-ciri domba tipe potong atau pedaging adalah bentuk badan padat, dada lebar dan dalam, leher pendek, garis punggung dan pinggang lurus. Kaki pendek, seluruh tubuh berurat daging yang padat. Contoh tipe ini adalah southdown, hampshire, dan oxford.

Kelompok domba tipe wol memiliki ciri-ciri bertubuh ringan, kaki halus dan ringan, berdaging tipis, serta berprilaku lincah dan aktif. Antara permukaan daging dan kulit agak longgar dan berlipat- lipat. Termasuk domba tipe wol adalah merino, rambouillet, dorset, dan suffolk.

Di Indonesia umumnya domba-domba yang ada tidak termasuk kedua tipe di atas, tetapi dari segi pemasaran (kebutuhan konsumen) lebih mengarah kepada tipe pedaging atau tipe potong.

Konsumen domba di Indonesia banyak yang mengonsumsi domba dalam bentuk daging, terutama untuk sate. Menjelang Idul Adha permintaan konsumen akan meningkat tinggi sebagai hewan kurban yang akhirnya untuk konsumsi berupa daging.

Anatomi dan Fisiologi Domba Kambing (DK)

Secara umum anatomi dan fisiologi ternak ruminansia dengan non ruminansia adalah sama. Namun, dari sekian banyak sistem tubuh pada ternak pemakan rumput yang membedakan antara ternak ruminansia dengan non ruminansia adalah pada sistem pencernaan terutama lambung (perut). Ruminansia memiliki 4 lambung (poligastrik) yang terdiri dari rumen, retikulum, omasum dan abomasum. Ketiga lambung pertama disebut lambung palsu atau lambung depan dan yang terakhir (abomasum) disebut lambung sejati.

Rumen merupakan sebuah kantung otot yang paling besar ukurannya diantara organ yang ada di rongga perut dan memenuhi daerah sebelah kiri rongga perut. Mukosa rumen merupakan epitel yang tidak mengandung kelenjar. Bentuk permukaan rumen seperti handuk sehingga disebut juga lambung handuk. Di dalam rumen makanan disimpan sementara untuk kemudian dikeluarkan kembali ke mulut (ruminasi) dan selanjutnya dilakukan pencernaan secara fisik, kimiawi dan enzimatis. Proses pencernaan secara fisik melalui pengunyahan kembali dan peremasan oleh gerakan rumen sampai makanan halus.

Retikulum adalah bagian perut (lambung) yang paling depan. Seperti namanya lambung ini membagi permukaannya menjadi permukaan yang menyerupai sarang lebah atau seperti jala, sehingga disebut juga lambung jala. Lokasi retikulum yang paling depan dan berada di belakang diafragma serta menempatkannya hampir berlawanan dengan jantung akan menjadi jalan terjadinya perikarditis (radang selaput jantung) akibat tertusuk benda tajam seperti paku atau kawat. Benda- benda tersebut masuk ke dalam retikulum karena tertelan saat makan. Di dalam retikulum, makanan yang telah dihaluskan oleh rumen akan dihaluskan lagi dan dilakukan pencernaan secara enzimatis dan kimiawi sampai makanan menjadi lunak.

Omasum merupakan suatu organ yang terisi oleh lamina muskuler. Membrana mukosa yang menutupi lamina dipenuhi oleh papile yang pendek dan tumpul yang akan menggiling makanan terutama hijauan atau serat-serat sebelum masuk ke abomasum. Dasar omasum seperti lembaran-lembaran yang ditutupi epitel. Pada pertautan antara omasum dan abomasum terdapat suatu susunan lipatan yang berperan sebagai katup untuk mencegah kembalinya bahan makanan dari abomasum ke omasum. Omasum letaknya di sebelah kanan rumen dan retikulum persis di belakang hati. Diantara keempat lambung tadi, omasum merupakan lambung yang paling kecil.

Abomasum atau perut sejati merupakan suatu bagian glandula (kelenjar) pertama dari sistem pencernaan pada ruminansia. Lambung sejati ini terletak di bawah omasum dan terentang di belakang pada sisi kanan dari rumen. Berbeda dengan epitel lambung lainnya, epitel abomasum dapat menghasilkan mukosa. Mukosa tersebut menutupi epitel lambung untuk mencegah cairan pencernaan mencerna sel-sel lambung sendiri. Abomasum merupakan lambung yang berbatasan langsung dengan usus kecil, jadi makanan yang telah dicerna disalurkan oleh abomasum ke dalam usus untuk selanjutnya diserap di dalam usus.

Perbatasan antara abomasum dan usus kecil tersebut sangat kecil sehingga apabila ada sedikit penyumbatan oleh bulu atau serat-serat makanan akan menghalangi perjalanan sari-sari makanan ke usus. Akibatnya tubuh tidak bisa menyerap sari- sari makanan untuk kebutuhan hidup, sehingga tubuh kan mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Hal ini sering menyebabkan kematian terutama pada anak-anak berumur di bawah 3 bulan.

Bangsa Domba Kambing

1. Bangsa Kambing

a. Kambing Kacang
Jenis ini merupakan yang terbanyak dan disebut juga kambing lokal. Bekembangbiak cepat karena umur 15-18 bulan sudah bisa menghasilkan keturunan, cocok penghasil daging karena sangat prolifik (sering lahir kembar) bahkan lahir tiga setiap induknya. Mudah dipelihara bahkan dilepas mencari pakan sendiri, kawin dan beranak tganpa bantuan pemiliknya.

Ciri-ciri utama:
  • Bulu pendek dan satu warna (coklat,hitam,putih) atau kombinasi dari ketiga warna tersebut
  • Jantan betina bertanduk, telinga pendek dan menggantung
  • Bobot yang jantan dewasa rata-rata 25 kg, tinggi tubuh gumba 60-65 cm dan betina 20 kg, tinggi tubuh 56 cm.
  • Peluang induk lahir kembar 52%, kembar tiga 2.6% dan tunggal 44.9%
  • Dewasa kelamin jantan umr 135-173 hari, betina 153-454 hari. Rata-rata betina beranak umur 12-13 bulan
  • Prosentase karkas 44-51%
  • Rata-rata betina beranak umur 12-13 bulan dengan bobot lahir 3.28 kg dan Bobot Sapih 10.12 kg

b. Kambing Saanen

Jumlah pasti populasi Kambing Saanen belum bisa dipastikan, tapi yang jelas ahwa jenis ini sudah mulai berkurang di masyarakat peternak. Kambing saanen merupakan jenis Kambing Penghasil Susu dann hasil susunya paling tinggi dibandingkan dengan jenis kambing susu lainnya, bahkan dapat mencapai 3-4 liter per hari.

Ciri-ciri utama kambing saanen antara lain:
  • Kepala kecil dan berbentuk lancip
  • Jantan betina sering tidak bertanduk
  • Warna bulu putih, krem pucat dengan bercak-bercak hitam pada hidung, telinga dan ambing

c. Kambing Ettawa


Kambing ini berasal dari daeran Jamnapari India. Ciri-ciri kambing ini adalah hidung melengkung, baik jantan maupun betina bertanduk, telinga panjang terlkulai sampai 30 cm. Kaki panjang dan berbulu panjang pada garis belakang kaki. Warna bulu belang hitam putih atau merah dan ciklat putih. Produksi susu yang baik sebanyak 3 liter/ekor/hari, hal ini didukung oleh ambing yang besar dan panjang. Tinggi badan jantan dewasa mencapai 90-127 cm, sedangkan yang betina dewasa 76-92 cm. Bobot badan jantan dewasa 68-91 Kg dan yang betina dewasa 36-63 Kg.

d. Kambing Peranakan Ettawa (PE)

Jenis ini merupakan hasil persilangan antara kambing ettawa (India) dengan Kambing Kacang. Penampilan peranakan mirip kambing kacang, walaupun tampilan Ettawa juga terlihat, dan sering disebut juga dengan Jawa Randu atau Bligon.

Pemanfaat disamping dapat diarahkan untuk pedaging juga dapat juga sebagai penghasil susu.

Ciri khas Kambing PE adalah:
  • Telinga panjang, lembek, menggantung dan ujungnya agak melipat
  • Bentuk muka cembung melengkung dan dagu berjanggut
  • Dibawah leher terdapat gelambir, tanduk berdiri agak kebelakang dengan ujung sedikit melingkar
  • Tinggi tubuh 70-90 cm
  • Warna bulu umumnya belang hitam, belang coklat, coklat bertotol putih, putih totol coklat atau putih totol hitam.

e. Kambing Merica
Termasuk kambing lokal yang banyak terdapat di Sulawesi. Tandanya adalah memiliki tubuh yang kecil jika dibandingkan dengan kambing kacang. Beberapa ahli memperkirakan masih ada hubungan keturunan dengan kambing kacang.

f. Kambing Alpine

Tanda-tandanya adalah mempunyai warna bulu bermacam-macam dari putih sampai kehitam-hitaman. Warna muka ada garis putih di atas hidung. Ada yang bertanduk dan ada juga yang tidak bertanduk. Besar dan tingginya sama dengan kambing saanen.

Termasuk kambing penghasil susu yang banyak.

g. Kambing Nubian (Anglo)

Mempunyai ciri-ciri : bulu pendek, kaki panjang dan dapat menyesuaikan disi di daerah panas. Merupakan kambing yang subur dan beranak kembar. Ada yang bertanduk dan ada yang tidak bertanduk.

h. Kambing Gembrong
Jenis kambing ini hana ada di Desa Bugbug, Culik dan Bunutan Pantai Timur Bali. Diperkirakan berasal dari keturunan kambing Anggora,atau dari kambing kashmir berbulu putih.

Tinggi 58-65 cm. Bobot dewasa 32-45 kg, bulunya dapat mencapai 25 cm. Kambing jantan diambil bulunya yang panjang,putih, halus seperti sutra. Pencukuran dilakukan setiap 1.5 tahun sekali.

Pemeliharaan dilakukan secara semi intensif.

i. Kambing Boer
Kambing Boer adalah kambing yang mempunyai performance yang terbaik di dunia berasal dari Afrika yang disebut sebagai Star of Africa (Mason, 1988; Maze, 2006; Pazzani, 2006). Kambing ini termasuk kambing dwiguna yaitu dapat diandalkan sebagai penghasil daging dan penghasil air susu. Sebagai tipe daging, kambing boer mempunyai bentuk tubuh yang ideal yaitu tubuh yang besar, berat, panjang berotot dan mempunyai persentase karkas yang tinggi (Machen, 1995), dan dapat dipelihara sebagai induk atau pejantan hingga berumur 10 tahun (Malan, 2000).

Dari hasil kajian, ternyata kambing Boer sangat menjanjikan untuk dipilih sebagai komoditas peternakan pedaging karena persentase daging terhadap berat hidup tinggi dan kualitas daging yang sangat baik yaitu daging yang lembut, rasa yang enak “ flavoursome, succulent, tender, extremely attractive and tasty” (Malan, 2000).

Dari segi produksi peternakan pertumbuhan kambing Boer relative cepat yaitu kenaikan berat badan dapat mencapai 150-170 gr per hari (Cassey dan van Niekerk, 1988). Pada kondisi yang baik kambing betina dewasa dapat mencapai berat badan 70-80 kg (Malan, 2000) atau sampai 90-100 kg (Mason, 1988), sedangkan jantan mencapai 100-120 kg (Malan, 2000) atau sampai 110-135 kg (Mason, 1988), dengan persentase karkas 49-55% dengan kandungan lemak rendah yaitu 5-6% (Mason, 1988).

Disamping itu kambing Boer mempunyai reproduktifitas yang tinggi, yaitu dengan masa bunting 148,2 + 3,7 hari (Greyling, 2000), Jumlah anak tunggal 8%-24,5%, kembar dua 59,2%-63,7%, kembar tiga15,3% -27,2% dan kembar empat 1% -1,1% (Erasmus 2000; Greyling, 2000). Lama interval antara melahirkan dengan kembali bunting selama 62,0+ 20,2 hari (Greyling, 2000). Pada pemeliharaan yang baik dapat menghasilkan tingkat kebuntingan 90%, jumlah anak lahir/ induk kawin 189%, jumlah anak/ induk melahirkan 210% dengan jarak beranak 7-8 bulan (Malan, 2000).

Sifat keindukan kambing Boer sangat baik, yaitu dapat memelihara anak kembar dengan baik (Machen, 1994), karena produksi susu yang tinggi yaitu 1,3 hingga 1,8 kg/ hari. Dapat dikategorikan sebagai kambing perah, karena kambing Boer dapat memproduksi susu selama 120 hari dengan produksi susu total sebanyak 160 kg (Cassey dan van Niekerk, 1988). Keunggulan lain dari kambing Boer ini adalah mau makan sisa makanan sapi (Cassey dan Van Niekerk, 1988), mau makan makanan konsentrat dan tidak terlalu memilih makanan yang disediakan (Machen 1995). Di Afrika selatan kambing ini makan daun daunan 74% sedang 26% rumput (Malan, 2000). Keunggulan lain yaitu Kambing Boer tahan penyakit (Erasmus, 2000).

Daya adaptasi kambing Boer sangat tinggi (Erasmus, 2000), dapat dipelihara pada berbagai kondisi iklim (Malan, 2000). Terbukti telah dikembangkan diberbagai bagian dunia dengan iklim tropis maupun sub tropis yaitu di Amerika, Canada, New Zealand, Jerman, Israel, Perancis, Australia dengan hasil yang baik. Kambing ini cocok untuk dikembangkan didaerah tropis karena berasal dari Afrika Selatan di daerah tropis, dan mempunyai warma bulu putih dengan warna coklat sekitar kepala sehingga stress terhadap panas minimum (Machen, 1995).

2. Bangsa Domba

Bangsa domba dibedakan menjadi bangsa domba Indonesia dan domba luar negeri.

a. Bangsa Domba Indonesia
1) Domba asli Indonesia
Domba ini dikenal juga dengan domba sayur atau domba lokal. Ciri-ciri dari domba ini adalah berbadan kecil, lambat dewasa, warna bulu dan tanda-tanda lain tidak seragam, serta hasil karkas rendah.

2) Domba ekor gemuk
Domba jenis ini terdapat di Jawa Timur, Madura, Lombok, dan Sulawesi. Ciri-ciri yang dimiliki domba bangsa ini adalah berbentuk badan besar, domba jantan bertanduk dan bobotnya mencapai 50 Kg, sedangkan domba betina tidak bertanduk dan berbobot 40 Kg.

Ekornya panjang, dengan pangkalnya besar dan menimbun lemak yang banyak, tetapi ujung ekornya kecil tak berlemak.

PENGENALAN TERNAK DOMBA KAMBING UNTUK PETERNAK PEMULA
Profil Domba Cibuluh (Garut)

3) Domba Garut
Asal usul domba ini masih dipertentangkan oleh para ahli domba dunia, tetapi banyak yang memperkirakan domba garut merupakan hasil persilangan dari domba asli Indonesia, merino, dan ekor gemuk dari Afrika Selatan.

Ciri-ciri dari domba ini adalah berbadan besar dan lebar serta leher kuat sehingga dapat digunakan sebagai domba aduan. Bobot domba jantan mencapai 60 – 80 Kg dan domba betina 35 – 40 Kg. Domba jantan bertanduk dan melengkung ke belakang berbentuk spiral. Bagian pangkal tanduk kanan dan kiri hampir bersatu. Domba betina tidak bertanduk. Bulu domba garut lebih panjang daripada domba asli dan warnanya beragam, ada yang putih hitam dan cokelat atau warna campuran. Walaupun ada darah merino, bulu wolnya yang paling halus hanya rata-rata sebesar setebal 31, sehingga digolongkan pada wol C, sedangkan tipe A dan B tidak dijumpai sama sekali.

b. Bangsa Domba Luar Negeri

1) Domba merino

Domba merino berasal dari Asia Kecil, lalu berkembang di Spanyol dan menyebar ke Inggris dan Australia. Merino merupakan domba penghasil wol yang berkualitas baik. Ciri-ciri domba ini adalah seluruh badannya tertutup wol yang tebal dan merata. Domba jantan bertanduk besar dan membelit sedangkan yang betina tidak bertanduk. Tubuhnya besar sampai bobotnya mencapai 70 Kg untuk domba jantan dan 45 Kg untuk domba betina.
Domba merino
Domba Merino

2) Domba rambouillet
 
Asal domba ini diperkirakan dari domba merino yang lama diternakkan di Prancis dan telah beradaptasi dengan baik serta telah mengalami perubahan bentuk, sehingga disebut juga 
merino prancis. Rambouillet merupakan tipe domba dwiguna dengan ciri-ciri badan besar, dalam, lebar dan padat, tulang-tulangnya kuat, kepala tegak dan yang jantan bertanduk besar tetapi yang betina tidak bertanduk.

Domba rambouillet
Domba rambouillet
3) Domba southdown

Domba southdown merupakan domba tipe pedaging yang berasal dari Inggris. Tubuh dari domba ini relatif kecil, lebar dan dalam, bentuknya bulat dengan perdagingan yang padat
serta kakinya pendek. Garis punggungnya lurus, leher pendek dan tebal. Telinga pendek dan  ujungnya  bulat.  Kepala  bisa  dengan  mudah  dibedakan  dengan  yang  lain  karena
telinganya pendek dan kecil serta tidak bertanduk.

Domba southdown
Domba southdown


4) Domba suffolk

Masuk ke Indonesia pada tahun 1975 dari Australia, sedangkan asal domba ini dari Ingris. Tipenya  adalah  pedaging  dan  sekaligus  sebagai  penghasil  wol  dengan  mutu  sedang.
Domba ini badannya besar, yang jantan bisa mencapai bobot lebih dari 60 Kg. Warna muka
dan kakinya hitam dan kakinya pendek.

5) Domba dorset

Sama halnya dengan domba suffolk, domba dorset masuk ke Indonesia melalui Australia, meskipun asalnya dari Inggris. Selain sebagai penghasil daging domba ini juga sebagai
penghasil  wol.  Tubuh  dari  domba  ini  panjang,  lebar  dan  dalam,  berbentuk  segiempat
dengan bobot jantan lebih dari 100 Kg dan yang betina sekitar 80 Kg. Domba dorset memiliki dua kelompok, yaitu kelompok dengan jantan dan betina bertanduk dan kelompok jantan dan betina tidak bertanduk.

Prospek dan Keuntungan Beternak Domba Kambing

Pada awalnya pemeliharaan domba kambing di Indonesia masih secara tradisional dan hanya sebagai tabungan, sehingga manajemen pemeliharaannnya pun masih sederhana, yaitu secara ekstensif. Domba Kambing yang dipelihara umumnya hanya sebanyak 3 – 5 ekor per keluarga. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, pemikiran petani tentang teknologi pemeliharaan yang lebih menguntungkan semakin meningkat, hal ini menimbulkan keingintahuan untuk mengetahui cara pemeliharaan yang lebih ekonomis. Akhirnya mulai bermunculan cara beternak domba secara intensif.

Menurut hasil penelitian, pemeliharaan secara sederhana hanya memberikan pertambahan bobot badan rataan sebesar 20 – 30 g/hari, sedangkan pemeliharaan dengan cara intensif dapat memberikan pertambahan bobot badan rataan sebesar 50 – 150 g/hari. Hal ini membuktikan bahwa pemeliharaan secra intensif berpengaruh besar terhadap produktivitas.

Seperti disebutkan di atas bahwa walaupun di Indonesia pasar domba kambing masih berkisar untuk konsumsi berupa daging, tetapi memiliki prospek keuntungan yang cerah, sebagai berikut :

1. Daging domba kambing, seperti halnya daging ayam, dapat diterima oleh berbagai lapisan masyarakat, agama, dan kepercayaan di Indonesia. Hal ini berbeda dengan daging sapi dan babi.

2. Domba Kambing sebagai hewan ritual, terutama untuk Kurban & Akikah yang kebutuhannya cukup besar setiap tahun

3. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan pendapatan yang cukup akan mendorong penduduk untuk memenuhi kebutuhan gizi, khususnya protein hewani.

4. Sampai saat ini penghasil daging utama di Indonesia seperti sapi, kerbau, dan ayam belum mencukupi konsumsi penduduk Indonesia

5. Selera konsumen untuk menikmati kelezatan daging domba sangat banyak macamnya,
seperti sate, gule dan sop, sehingga tidak akan kesulitan dalam pemasaran.

Selain prospek pemasaran yang masih terbuka lebar, beternak domba kambing juga memiliki kelebihan baik dari segi ternaknya sendiri maupun dari segi ekonomis, yaitu :

  1. Domba kambing mudah beradaptasi terhadap lingkungan. Meskipun Indonesia terletak di daerah tropis yang panas, domba kambing sanggup menahan penguapan lewat permukaan kulitnya yang tertutup tebal oleh bulu sehingga tidak memerlukan air minum tambahan, cukup dari kandungan air dalam pakan.
  2. Domba memiliki sifat suka berkelompok sehingga pada saat digembalakan tidak akan saling terpisah dari kelompoknya.
  3. Domba cepat berkembang biak karena dalam kurun waktu 2 tahun dapat beranak 3 kali, sekali beranak dapat 1 – 3 ekor.
  4. Hasil ikutannya berupa pupuk sangat membantu usaha pertanian sehingga bisa dikombinasikan dengan sektor pertanian yang lain, terutama dalam menghasilkan produk- produk Organik (Beras, Teh, Vanilli, dll)
  5. Modal usaha relatif kecil karena dengan modal kecil pun usaha ternak domba bisa jalan. Hal ini karena domba bisa diusahakan dengan kandang dan pakan yang sederhana dan mudah didapat dari lingkungan sekitar.
  6. Kulit domba merupakan nilai tambah karena dapat dijual dengan harga tinggi

MODEL PEMELIHARAAN USAHA TERNAK DOMBA DOMBA KAMBING

Ada tiga model pemeliharan domba kambing, yaitu secara ekstensif, semi-intensif dan intensif. Ketiga model tersebut cukup baik dilakukan, tergantung dari tujuan pemeliharaan, lahan,dana, kapasitas pakan dan ketrampilan mengelola pemeliharaan ternak tersebut. Sebaiknya untuk tujuan perbibitan menggunakan model ekstensif atau semi intensif. Sedangkan untuk tujuan penggemukan menggunakan model intensif.

1. Ekstensif

Campur tangan peternak terhadap ternak peliharaan hampir tidak ada. Domba Kambing dilepas begitu saja dan mencari pakan sendiri di lapangan gembalaan, pinggiran hutan atau tempat lain yang banyak ditumbuhi rumput serta sumber pakan alam lainnya. Tidak ada kandang khusus ternak, dan domba kambing memilih sendiri tempat yang ,mereka sukai untuk tidur atau istrahat.

Model ini cocok untuk di perkebunan yang luas dalam kawasan tertentu, seperti perkebunan kelapa sawit, perkebunan teh, dll. Model ini memungkinkan biaya produksi sangat sedikit, bahkan mendekati zero-cost, sehingga secara profitable cukup baik juga.

2. Semi Intensif
Pada sistim semi intensif ini kegiatan pemeliharaan domba kambing dengan sistim penggembalaan secara teratur. Peternak menyediakan kandang untuk hunian dan tempat tidur ternak malam hari. Penggembalaan dimulai jam 08, dimana ternak dilepas ke luar kandang dan digembalakan di lokasi yang cukup pakannya, lalu siang atau sore harinya kembali ke kandang untuk istrahat.
Pada keadaan tertentu peternak campur tangan, terutama dalam hal kebuntingan dan kelahiran serta ketika akan melakukan seleksi terhadap ternak yang akan dijual atau
dilakukan pemotongan. Pada sistim ini juga memungkinkan adanya perhatian terhadap
kontrol kesehatan ternaknya.
Demikian juga sebelum digembalakan, peternak masih memberikan makanan tambahan berupa makanan penguat atau vitamin baik di pagi maupun sore harinya. Secara lahan, jumlah yang dibutuhkan cukup luas, minimal 1-2 Ha untuk 50-100 ekor ternak dan kapasitas pakan alami di areal tersebut mencukupi untuk dibuat rotasi penggembalaan.

3. Intensif
Domba Kambing yang diternak secara intensif membutuhkan perhatian penuh, baik secara standard umum maupun dalam hal penanganan kasus yang ada. Perhatian ini mutlak
karena ternak 100% terkurung dalam kandang dan mengandalkan kemampuan layanan dari
peternak. Perlu perhitungan dan pengaturan yang cermat baik terhadap manajemem pakan, kesehatan ternak, kandang dan perkembangan tingkat produktivitasnya. Ada dua model kandang Intensif ini, yaitu kandang individual dan kandang koloni.

Model Intensif ini lebih cocok untuk tujuan penggemukan jangka pendek sehingga antara biaya produksi dan nilai jual dapat diperhitungkan dengan jelas. Dibandingkan dengan dua model sistim di atas, sistim intensif jauh membutuhkan biaya yang lebih besar. 
Keuntungan lain adalah tidak membutuhkan lahan yang luas.

Tips Meningkatkan Produktivitas Ayam Kampung

Tips Meningkatkan Produktivitas Ayam KampungTips Beternak Ayam - Beternak Ayam Kampung menghasilkan keuntungan yang cukup menggiurkan sehingga membuat banyak pihak tergoda untuk mencoba menjalankan bisnis ini. Banyak para Peternak mempermasalahkan rendahnya Produktivitas Ayam Kampung. Karena banyak para peternak masih menggunakan pola pemeliharan yang masih Tradisional.

Dalam pola pemeliharaan ayam kampung secara tradisional , dengan mudah bisa dihitung berapa produktivitas ayam kampung dalam satu tahun. Dalam pemeliharaan ayam kampung tradisional, induk ayam akan bertelur, mengerami telur, dan memelihara anak-anaknya sampai siap disapih. Anggaplah ayam bertelur 15 butir pada satu periode, jika ia bertelur tiap hari diperlukan waku 15 hari, pada kenyataannya jarang yang setiap hari.

Waktu mengerami telur ayam memerlukan 21 hari dan kemudian rata-rata memelihara anaknya sekitar 105 hari, maka waktu yang diperlukan adalah 15+21+105 = 141 hari. Walaupun demikian, ternak ini memiliki potensi yang cukup besar dalam mendukung ekonomi dan konsumsi protein hewani masyarakat. Untuk menjadikan ayam kampung ini sebagai ternak komersial, maka produksinya perlu ditingkatkan.


Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan produktivitas ternak ayam kampung :

Penanganan khusus pada anak dan induk


Tujuannya untuk mempercepat atau melipatgandakan perkembangbiakannya. Penanganan khusus pada anak ayam adalah dengan melakukan penyapihan lebih awal. Anak ayam harus disapih pada umur 1 hari atau pada umur 1 bulan, karena pada saat umur 1 bulan anak ayam sudah dapat mencari makan sendiri.

Jika penyapihan dilakukan pada saat umur 1 hari, maka harus dipelihara dalam kandang khusus (box), diberi makanan bergizi dan pemanas (induk buatan) dan jangan lupa divaksinasi. Dengan penyapihan lebih awal ini seekor induk dapat berproduksi lebih banyak daripada dibiarkan mengasuh terus anaknya. Jika dibiarkan mengasuh terus anaknya, induk hanya akan berproduksi setiap 2-3 bulan sekali (4-6 kali dalam setahun.

Perlakuan khusus terhadap induk adalah perlakuan yang diberikan kepada induk yang disapih, baik dari telurnya maupun dari anak-anaknya. Induk yang disapih dengan anaknya atau yang telurnya diambil (tidak dibiarkan mengerami) ditangkap dan dimandikan setiap pagi hari selama 3-4 hari dan diberikan makanan yang lebih bergizi, bila perlu dikurung bersama pejantan. maksud perlakuan ini adalah untuk menurunkan suhu tubuhnya, yang pada saat mengerami telur atau saat mengasuh anaknya, suhu tubuh tinggi. Ini diperlukan untuk memberikan kehangatan baik pada telur yang dierami maupun anak yang diasuh.
Dengan menurunkan suhu tubuh maka sikap mengeram atau mengasuh anak akan berkurang bahkan hilang. Apalagi bila dirangsang dengan makanan bergizi dan pejantan, maka proses peneluran akan lebih cepat timbul. Biasanya induk yang diperlakukan demikian akan bertelur kembali setelah 7-10 hari dari saat perlakuan.

Dengan melaksanakan keempat tindakan tersebut diatas secara utuh diharapkan ayam kampung akan memberikan nilai tambah yang cukup besar dalam mendukung ekonomi keluarga maupun konsumsi protein hewani keluarga dapat lebih tercapai.

Pakan dan Nutrisi

Pemberian pakan merupakan bagian penting dalam usaha peternakan ayam kampung petelur. Pakan yang diberikan harus memenuhi kebutuhan untuk produksi telur. Untuk itu secara nutrisi harus memenuhi semua yang dibutuhkan. Paling tidak ada 6 kelompok nutrisi yang harus terpenuhi di dalam pakan ayam.

Keenam kelompok nutrisi tersebut adalah sebagai berikut.

1. Air
Biasanya ayam mengkonsumsi air sebanyak 2 – 2,5 gram air untuk setiap pakan yang dikonsumsi selama masa awal dan pertumbuhan. Pada masa bertelur (petelur), ayam meminum sebanyak 1,5 – 2 gram air untuk setiap gram pakan yang dikonsumsi. Karena rata-rata ransum ayam yang diberikan mengandung tidak lebih dari 10% air maka penyediaan air minum yang bersih mutlak diberikan secara ad libitum.

2. Protein
Protein merupakan nutrisi utama yang dibutuhkan bagi ayam kampung petelur. Rata-rata kebutuhan protein untuk petelur adalah berkisar antara 16 – 17%. Selain secara kuantitatif, protein pakan juga harus mengandung asam amino yang lengkap, terutama asam amino esensial, yaitu yang tidak dapat disintesis di dalam tubuh ayam.

3. Karbohidrat
Fungsi utama karbohidrat dalam pakan ayam adalah sebagai sumber energy. Biji-bijian sereal dan turunannya merupakan sumber karbohidrat yang baik.

4. Lemak
Ayam petelur memerlukan asam lemak esensial seperti asam linoleat. Selain itu lemak juga menyumbangkan energy bagi ternak. Pada umumya bahan pakan seperti dedak mengandung 2,5% lemak.

5. Mineral
Mineral penting bagi ayam petelur terutama adalah kalsium (Ca), Fosfor (P), Natrium (Na), Magnesium (Mg) dan lain-lain. Mineral-mineral tersebut penting karena terkait dengan pembentukan telur.

6. Vitamin
Vitamin pada umumnya berperan sebagai ko-enzim dan regulator metabolism. Pakan yang defisiensi vitamin akan menurunkan produktivitas telur. Jenis pakan dapat dikelompokkan menjadi 3 tipe berdasarkan periode umur ayam, yaitu: 1. Pakan starter, yaitu pakan yang diberikan untuk DOC hingga berumur 8 minggu dan dalam bentuk remahan (mash). 2. Pakan grower, yaitru diberikan kepada ayam berumur 8 – 20 minggu atau hingga mulai bertelur. 3. Pakan layer, yaitu diberikan untuk ayam periode bertelur.

Melakukan Kawin Silang Ayam

Indonesia memiliki berbagai jenis ayam kampung atau ayam buras, misalnya saja ayam kedu, ayam nunukan, ayam pelung dan lain sebagainya. Setiap jenis ayam tersebut memiliki karakter dan kelebihan masing-masing. Misalnya saja ayam pelung yang memiliki kelebihan dari ukuran badan sehingga cocok dijadikan bibit ayam kampung pedaging, ayam arab memiliki kelebihan dalam hal produktivitas telur. Persilangan berbagai macam jenis ayam kampung tersebut dilakukan untuk mendapatkan keturunan yang unggul seperti yang dikehendaki dan bernilai ekonomis tinggi.

Vaksinasi ND secara teratur

Sudah umum diketahui bahwa penyakit tetelo/ sampar/ New Castle Disease (ND) merupakan momok utama penyebab kematian ayam kampung.Penyakit ini biasanya terjadi pada saat pergantian musim, baik dari musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya. Karena disebabkan oleh virus, satu-satunya cara untuk menghindarkan ayam dari serangan penyakit ini adalah dengan menciptakan kekebalan pada tubuhnya, denganmelakukan vaksinasi ND secara teratur.

Vaksinasi ND sebaiknya dilaksanakan dengan program 4 4 3 3, artinya ayam mulai divaksin ND pada umur 4 hari dengan cara tetes mata atau hidung memakai vaksin strain F. Setelah itu diulang kembali pada umur 4 minggu dengan cara tetes mata/hidung, tetapi bila memungkinkan untuk disuntik dapat saja dilakukan penyuntikan pada otot dada atau paha.

Kemudian divaksin kembali (revaksinasi) pada umur 3 bulan dengan cara disuntik menggunakan vaksin strain K dan diulang setiap 3 bulan sekali. Tanpa melaksanakan vaksinasi ND secara teratur, ayam kampung yang dipelihara tidak dapat hidup seperti yang diharapkan terutama pada anak-anaknya (antara 1-30 hari).

Pengendalian Penyakit

Wabah penyakit yang melanda ayam kampung secara tahunan adalah problem yang terus berulang dihadapi peternak tradisional. Pengendalian penyakit menjadi penting dan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tinggi rendahnya tingkat produksi. Salah satu contoh upaya pengendalian penyakit ayam adalah dengan melakukan vaksinasi ayam sebagai langkah pencegahan. Selain itu pemahaman akan berbagai macam penyakit dan langkah pengendalian merupakan hal yang sangat penting. Tidak hanya itu biosecurity juga perlu diterapkan di dalam meningkatkan produktivitas ayam kampung.

Manajemen Pemeliharaan

Dalam usaha peternakan ayam kampung dengan tujuan untuk menghasilkan telur, yang penting diperhatikan adalah perihal manajemen. Manajemen ini meliputi pemberian pakan dan minum, kebersihan dan kesehatan kandang, pemanenan dan pemasaran. Manajemen pakan dan minum harus memperhatikan pula kebutuhan nutrisi ayam petelur. Air dan pakan yang diberikan secara ad libitum agar terjamin kebutuhan nutrisinya. Kecukupan akan pakan menghidarkan ayam dari stress dan terjaganya produksi telurnya.

Kebersihan dan kesehatan kandang akan membawa ayam pada kondisi nyaman sehingga menhindari stress. Kandang dan lingkungannya yang bersih juga menghidari adanya kontaminasi mikroba, serangan hama dan penyakit ternak. Pemanenan telur yang dihasilkan harus segera untuk menghindari telur kotor akibat tercampur feses atau sisa-sisa pakan pada kandang. Hal ini untuk menjamin mutu telur yang dihasilkan. Namun demikian, pemanenan tidak juga harus terlalu sering karena dapat menyebabkan ayam stress.

Beri makanan tambahan

Ayam kampung memeng dapat mencari makan sendiri bila dilepas di pekarangan atau tempat-tempat lain. Tetapi makanan yang diperolehnya ini belum tentu mencukupi kebutuhannya untuk tumbuh dan berkembang lebih baik, sehingga pertumbuhan, kesehatan dan produksinyapun akan berpengaruh. untuk itu, untuk mendapatkan ayam  kampung yang sehat, cepat besar dan mampu berproduksi optimal diperlukan makanan tambahan.



Makanan tambahan ini dapat saja berupa hasil atau limbah pertanian seperti jagung, ketela, gabah, dedak bahkan limbah dapur atau makanan sisa dapat diberikan, asalkan cukup bergizi. Pemberian makanan tambahan ini sebaiknya dilakukan dua kali sehari, yaitu pada pagi dan sore hari. Maksud diberikan pagi hari saat ayam akan mengembara mencari makan, agar tubuhnya cukup kuat, memiliki tenaga/energi, sehingga akan lebih kuat dan lincah baik dalam mencari makan maupun bahaya yang mungkin dihadapi.

Sedangkan pemberian pada sore hari, yakni pada saat ayam akan tidur maksudnya adalah untuk melengkapi kekurangan makanan yang diperoleh selama pengembaraannya. Makanan ini diperlukan untuk proses pertumbuhan maupun produksinya.(berbagai sumber)

Cara Mengawinkan Burung Murai Batu

Budidaya Burung - Sebelum menjodohkan dan mengawinkan burung murai batu, hal pertama yang perlu dipersiapkan adalah memilih indukan Jantan dan Betina yang berkualitas. Ukuran tentang kualitas dapat bermacam-macam alasan dan motivasi serta tujuan mengembang-biakan burung tersebut. Tapi sebagai dasar utama pemilihan indukan yang berkualitas adalah melihat dari gen indukan.
  • Memilih indukan jantan, pilih yang sehat, tidak cacat fisik dan gacor dengan perkiraan usia di atas 2 tahun.
  • Memilih indukan betina, pilih yang usia di atas 1 tahun, mulus dan sudah mau bunyi kalau didekatkan dengan murai batu jantan.
  • Pilihlah jantan dan betina yang jinak, dalam arti tidak takut lagi dengan manusia. Soal asal murai batu, pilih sesuai keinginan Anda.
Cara Mengawinkan Burung Murai Batu

Bagaimana Proses penjodohan Burung Muari Batu                                                                                                                                                                          

  • Agar proses penjodohan lebih mudah, siapkan betina lebih dari 1 ekor, dekatkan dengan pejantan yang telah diseleksi, baik dari kualitas suara, katuranggan maupun prestasinya. Bila sudah ada yang tampak rajin bunyi, ngeleper-ngeleper sayapnya sambil ngeriwik, itu pertanda si betina sudah birahi, pilih betina tersebut, dekatkan dengan pejantan ditempat terpisah selama kurang lebih 3 hari.
  • Masukkan ke dalam sangkar bersekat, atau biasanya disebut kandang jodoh, atau bila tidak ada sangkar bersekat boleh juga mengunakan sangkar biasa yang diletakan berhimpitan.
  • Lakukan pengamatan secara rutin, untuk memastikan jodoh tidaknya indukan pilihan tersebut. Bila sudah terlihat akrab, yakni sering terlihat berhimpitan meski masih dibatasi sekat, baru masukan ke kandang penangkaran.Tanda-tanda penjodohan yang sukses, apabila sepasang indukan sering berduaan, sering kejar-kejaran, tapi bukan saling serang. Sebaliknya bila sang jantan mengejar dan menghajar betina, maka segera pisahkan kembali pasangan tersebut, karna bila dibiarkan bisa berakibat fatal yakni kematian pada sang betina.
  • Lakukan penjodohan alternatif, ulangi kembali penjodohan dari tahap pertama selama 1 minggu, kemudian masukan betina kedalam sangkar kecil dan masukan kedalam kandang besar, sementara itu biarkan sang pejantan bebas didalam kandang penangkaran dan merasa lebih berkuasa, langkah ini juga bertujuan mengurangi birahi pejantan.
  • Ganti pasangan bila tidak mau jodoh, ini merupakan alternatif terakhir dan mutlak dilakukan, yakni bila pasangan tersebut tetap tidak bisa jodoh, ganti betina dengan betina baru. Lakukan langkah-langkah penjodohan mulai dari awal sambil diamati perkembangannya.
  • Setelah proses ini berjalan dengan baik dan terjadi kemajuan satu sama lain, tempatkan sangkar lebih dekat lagi. Misalnya persempit jarak sangkar. Biasanya kalo kedua burung sudah saling cocok, Individu Jantan akan memperlihatkan bahasa tubuh, seperti mengibas-kibaskan ekornya dan menampilkan suara yang merdu untuk menarik perhatian individu betina. Jika reaksi indukan betina hanya berdiam diri di atas tangkringan saja, itu menandakan ia belum siap untuk kawin. Proses ini membutuhkan kesabaran. Jika reaksi indukan betina mengambil posisi membungkuk dan melebarkan kedua sayapnya, itu menandakan ia sudah benar-benar siap untuk kawin.
  • Jika sudah terlihat saling tertarik segera masukkan kedua indukan dalam kandang penangkaran yang besar. Keluarkan betina dari dalam sangkar, sedangkan indukan Jantan usahakan masih didalam sangkar yang digantung di dalam kandang besar. Biarkan proses penjodohan ini berlanjut sampai indukan Betina benar-benar siap untuk dikawinkan. Biasanya indukan betina akan sering hinggap disekitar sangkar indukan Jantan.
  • Setelah fase penjodohan memperlihatkan kemajuan yang baik, Anda tidak perlu khawatir untuk mengeluarkan indukan Jantan dari sangkar gantung.
  • Jika burung telah ditempatkan bersama-sama, mereka akan cepat melakukan aktifitas perkawinan. Setelah ini berlangsung, indukan betina akan membangun sarangnya dalam waktu sehari dan akan mulai bertelur pertama kali setelah hari-hari berikutnya. Telur pertama, kedua dan ketiga biasanya merupakan telur yang tidak berproduksi/tidak menetas (infertilitas).(sumber indobird)